ermainan bola basket merupakan salah satu cabang olahraga yang diajarkan dalam kurikulum pendidikan jasmani di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs). Salah satu keterampilan dasar yang penting dalam permainan ini adalah dribbling atau menggiring bola. Keterampilan dribbling yang baik memungkinkan pemain mengendalikan bola, menghindari lawan, serta menciptakan peluang untuk mencetak poin. Namun, hasil pra-observasi di MTs Negeri 2 Lampung Utara menunjukkan bahwa banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam menguasai teknik dasar ini. Kesalahan umum yang ditemukan meliputi penggunaan telapak tangan, memantulkan bola terlalu tinggi, serta posisi tubuh yang kurang tepat saat melakukan dribbling . Selain itu, faktor lain seperti kurangnya fokus siswa, metode pembelajaran yang kurang menarik, keterbatasan fasilitas, serta minimnya motivasi dan disiplin turut memengaruhi rendahnya keterampilan dribbling .
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas VIII.7 dan satu guru olahraga di MTs N 2 Lampung Utara. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal seperti motivasi, rasa percaya diri, minat, dan kebugaran jasmani memiliki pengaruh signifikan terhadap keterampilan dribbling siswa. Sementara itu, faktor eksternal berupa metode pembelajaran, dukungan keluarga, ketersediaan fasilitas, dan lingkungan tempat tinggal juga berperan penting. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya kombinasi aspek teknis, psikologis, dan sosial dalam pembelajaran olahraga. Dengan demikian, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih variatif, dukungan lingkungan yang memadai, serta peningkatan kesadaran siswa akan pentingnya latihan berkelanjutan untuk meningkatkan keterampilan dribbling bola basket.
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan kendala yang dihadapi sekolah dasar ketika menerapkan kurikulum merdeka. Metodologi penelitian ini adalah tinjauan literatur. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kendala dalam menerapkan kurikulum merdeka, yang beberapa di antaranya dapat dipecah menjadi tiga tahap: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program. Pada tahap perencanaan, hasil analisis menunjukkan bahwa Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang harus dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan siswa dan memasukkan referensi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghadirkan tantangan sepanjang tahap desain pembelajaran kurikulum merdeka. Pada tahap pelaksanaan, terdapat tiga poin yang harus diperhatikan, yaitu; 1) Mengembangkan model pembelajaran merupakan sebuah tantangan, 2) kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung penerapan kurikulum mandiri, 3) kurangnya alokasi waktu, 4) penggunaan teknologi yang kurang baik oleh guru. Pada tahap evaluasi, kesulitan dalam menentukan capaian tingkat keberhasilan peserta didik menjadi poin yang perlu diperhatikan.
Kata Kunci : kendala, kurikulum merdeka
Abstract: The purpose of this study is to describe the obstacles faced by elementary schools when implementing an independent curriculum. The literature review was applied in this research as methodology. The findings of this study showed that there were obstacles in implementing an independent curriculum, some of that could be broken down into three stages: program planning, implementation, and assessment. At the planning stage, the results of the analysis showed that the Learning Objectives Flow (ATP) that must be modified to meet student needs and include references from the Ministry of Education and Culture presents challenges throughout the learning design stage of the independent curriculum. At the implementation stage, there are three points that must be considered, namely; 1) developing a learning model is a challenge, 2) lack of facilities and infrastructure that support the implementation of an independent curriculum, 3) lack of time allocation, 4) poor use of technology by teachers. At the evaluation stage, the difficulty in determining the achievement of the success rate of students becomes a point that needs attention.
Keywords: constraints, independent curriculum